Sabtu, 24 Mei 2014

Apakah tugas dan PR itu Perlu??

Bismillahirrahmanirrahim,  

     Tugas dan PR adalah kewajiban bagi siswa yang sedang menempuh jalur pendidikan. Dari jenjang pendidikan formal, non formal, TK, SD, hingga perguruan tinggi pun memberikan tugas bagi siswanya. Namun, seringkali tugas dan PR itu hanya terasa sebagai sebuah beban, sebuah perintah guru yang membuat kita lelah dan membuang waktu kita. Tugas, kadang bisa menghabiskan waktu seharian, bahkan berhari hari untuk menyelesaikannya. Kadang juga sebuah tugas bisa menyedot isi dompet siswa yang relatif kempes itu. Dan yang paling menyebalkan adalah tugas menjadi salah satu faktor yang membuat waktu luang untuk bermain dan bersantai menjadi berkurang. Dari pengalaman saya pribadi, mengerjakan tugas hingga larut malam merupakan keseharian. Itupun belum tentu tugas tugas selesai semua. Sebuah horor jika esok hari, semua mata pelajaran esok hari memiliki tugas untuk dilakukan. Hal ini telah kita lakukan dan telah menjadi rutinitas harian.  Namun terbersitlah sebuah pertanyaan, apakah tugas dan PR itu perlu?? Berbulan bulan terjadi kontroversi dalam diri saya. Saya kadang berpendapat tugas itu wajib dan perlu. Namun di hari yang lain, saya merasa tugas dan PR itu malah membebani. Dan Alhamudulillah, saya akhirnya mendapatkan suatu pemahaman. Dan pemahaman ini khendak saya bagikan kepada siapapun yang ingin membacanya. Luangkanlah sedikit waktu untuk membaca sampai selesai, siapatau setelah membaca ini, mengerjakan tugas menjadi lebih semangat. Dan barangkali, pemahaman saya ini ada yang salah sehingga semuanya bisa mengkoreksi saya.
   
     Menghindari dan menolak tugas atau PR itu tidak mungkin. Pelajar atau siswa bersekolah dan hendak menimba ilmu yang diberikan oleh gurunya. Seorang siswa berada di posisi meminta dan membutuhkan ilmu dari gurunya, dan guru berada di posisi pemberi. Karena posisi politik siswa berada di posisi meminta dan membutuhkan guru, maka seorang murid tidak dapat menolak apa yang gurunya berikan. Jika memang tugas yang guru berikan pada kita adalah bagian dari PROSES untuk mendapatkan ilmu darinya, maka hal ini harus kita lakukan. Guru saya, pak Deni Setiadi, S.Pd selalu berkata

"The procces is more important than the result",
 dan kata kata ini hingga sekarang menjadi moto kelas kami. Bagaimanapun, kita harus menghargai prosesnya. Karena, proses itu lebih penting daripada hasilnya.

Dalam kitab Ta'lim muta'alim  yang disusun oleh Syeikh Az-Zarnuji yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia oleh Abdul Kadir Aljufri (terbitan MUTIARA ILMU Surabaya: 2009) dikatakan bahwa sebaiknya, murid itu menghormati guru dan mematuhi perintah guru selama itu berada dalam kebaikan.
Bahkan Sayidina Ali karamalahu wajhah pernah berkata
 "Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf, jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya"

dan ada sebuah syair arab yang berbunyi
"Tidak ada hak yang lebih besar kecuali hak nya guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham. Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama. Sebab dia adalah bapakmu dalam agama."

  
     Tugas bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah amanat. Banyak sudut pandang yang kurang tepat mengenai tugas. Tugas dipandang sebagai suatu "perintah" atau "kerjaan" yang dibebankan pada siswa. Jika kita berfikir demikian, maka selamanya tugas itu akan terasa berat, atau bahkan menyiksa. Karena secara psikologis, ketika seseorang dibebankan sesuatu yang tidak menguntungkannya, dia akan merasa merugi dan enggan untuk mengerjakannya. Maka dari itu, mari kita rubah sudut pandangnya. Tatkala guru memberikan tugas pada kita, sebenarnya guru itu sedang mempercayakan suatu hal yang besar kepada siswanya. Dengan kata lain, sedang memberikan amanat untuk kita selesaikan. Dan melaksanakan amanat merupakan kewajiban bagi muslim.

 Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui". (Al-Anfal [8]:27)

Maka ketika kita diberikan tugas, perlu kita pahami dalam hati bahwa kita sedang mengemban suatu amanah. Jika kita berhasil menanamkan konsep ini dengan sebaik baiknya, maka kita akan merasa setiap tugas itu adalah bagian dari perintah Allah, bagian dari ibadah. Dan insyaallah, fikiran, akal dan keimanan akan senantiasa menuntun kita untuk selalu taat terhadap apa apa yang diperintahkan Allah. Ketika itu terjadi, maka kita tidak akan merasa merugi dalam mengerjakan tugas, dan tidak akan menjadikan perintah Allah suatu beban. Jikkalau tugas yang kita lakukan ternyata tidak sempurna, itu tidak mengapa. Bukankah kita belajar karena merasa tidak sempurna?
Om Mario Teguh pernah berkata, "tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita  hanyalah mencobanya".

      Pelajar, perlu memahami tujuan belajar itu sendiri. Jika seorang pelajar masih belum tau mengapa ia perlu belajar, maka apa yang ia pelajari perlu dipertanyakan. Sebenarnya, apakah tujuan seseorang ketika pergi menuntut ilmu ke sekolah? Apakah belajar itu untuk memajukan dan menghebatkan sekolah, ataukah untuk meningkatkan ilmu dan menghebatkan diri sendiri? Jika memang pergi ke sekolah itu untuk menghebatkan sekolah, maka sekolah harus lebih dominan dalam mendidik siswanya. Sekolah harus senantiasa mendompleng siswanya agar menghebatkan sekolah. Sekolah akan terus memaksa siswanya untuk hebat agar bisa menghebatkan sekolah, meskipun siswa tak mau dan tak ikhlas. Ketika guru tak hadir, dan sekolah tidak ada, siswa akan berdiam diri dan tidak belajar, karena tidak ada sekolah yang memaksanya untuk belajar.
       Namun akan lain halnya jika kita, sebagai seorang pelajar memiliki motivasi ingin menghebatkan kemampuan diri sendiri, ingin menjadikan diri ini penuh ilmu sehingga kelak layak diterima masyarakat, sehingga kelak dapat membuat bahagia orangtua, sehingga kelak bisa mencari uang untuk penghidupan yang layak. Maka jika kita bertujuan belajar untuk menghebatkan kita, sudah selayaknya jika "peran" kita sebagai pelajar lebih dominan daripada sekolah. Ketika kita menyadari peran kita yang dominan dalam belajar, maka kehadiran sekolah terasa sebagai pelengkap saja. Tatkala guru tak ada pun, kita akan terus belajar dan merasa tidak terpengaruh, karena peran kita memang harus lebih dominan. Dan tatkala guru memberikan tugas pun, kita akan merasa tertantang, merasa senang, merasa bahwa ada suatu hal yang akan memfasilitasi kita dalam menghebatkan diri kita sendiri. Dan saat pemikiran "belajar untuk menghebatkan diri sendiri" menjadi prinsip, tugas pun akan terasa menyenangkan. Dan secara otomatis, kita akan menghebatkan sekolah.


     Untuk mendapatkan ilmu, memang diperlukan pengorbanan. Jika tugas mengeluarkan biaya, anggaplah itu sebagai bagian dari transaksi yang kita lakukan untuk mendapatkan ilmu. Jika biayanya ternyata cukup besar dan tidak mampu ditangani sendirian, disinilah logika kita bisa digunakan. Kita bisa menggunakan teknik gotong royong jika itu memungkinkan.
Begitupun waktu yang kita gunakan untuk mengerjakan tugas itu. Memang kadang terasa menyita waktu, dan membuang waktu kita. Ini juga makin saya rasakan ketika masuk ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Tugas melimpah ruah, bak deburan ombak yang menggulung pasir pantai. Tapi, mari buat suatu perumpamaan. Suatu hari, kita diberikan tugas yang harus dikerjakan seharian penuh. Anggaplah kita merasa merugi waktu seharian telah terbuang. Tapi umpamakan jika hari itu, tidak ada tugas. Apa yang akan kita lakukan selama seharian itu? Bisa jadi, waktu kita seharian malah digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat dan kita tidak mendapatkan apa apa dari seharian itu. Maka tentulah kita lebih merugi.

Imam Syafi'e dalam syairnya mengatakan "Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang".

Jadi, berkorban itu perlu.


     Tidak mengerjakan tugas karena malas, itu kerugian. Disebutkan dalam kitab Ta'lim muta'alim, bahwa
Imam Mushannif pernah berkata:
  "Wahai jiwaku, tinggalkanlah bermalas-malasan dan menunda nunda, supaya kamu tidak menetap didalam kehinaan. Aku tidak melihat bagian yang diberikan kepada pemalas kecuali penyesalan karena gagal meraih cita cita"

Jikalau tugas yang kita lakukan ternyata tidak sempurna, itu tidak mengapa. Bukankah kita belajar karena merasa tidak sempurna?
Om Mario Teguh pernah berkata, "tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah mencoba".


      Kesimpulannya, tugas dan PR itu perlu sebagai konsekuensi kita menjadi pelajar yang sedang menuntut ilmu. Memang berat, dan saya pun sering merasa demikian. Saya bukanlah sosok sempurna. Tidak lain saya membuat artikel ini hanyalah sebagai pengingat, khususnya untuk diri saya, dan umumnya untuk pembaca sekalian.  Seandainya tulisan ini bermanfaat dan membawa kebaikan, maka bagikanlah terhadap sesama. Seperti firman Allah ".. dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran " (QS Al Asr - 3). Tapi seandainya di tulisan ini ada yang tidak benar, maka mohon dimaafkan dan dikoreksi. Ilmu saya dangkal, penuh kesalahan. Semoga tulisan ini bermanfaat, sehingga Allah mememberikan kemudahan bagi kita, dan meringankan beban yang memberatkan punggung dan menyesakkan dada. Jika salah datangnya dari kebodohan saya, jika itu benar itu adalah ilmu Allah.  Allah lah yang Maha Benar lagi Maha Mengetahui.

Allaahu a'lam bis-shawaab


admin - Eka Yudhi Pratama
Jumat, 23 Mei 2014
=================================================================================
refrensi:
  • Al Quran
  • kitab Ta'lim muta'alim  yang disusun oleh Syeikh Az-Zarnuji yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia oleh Abdul Kadir Aljufri (terbitan MUTIARA ILMU Surabaya: 2009)
  • materi amanat dari http://hariswanindra.blogspot.com/2010/06/menjaga-amanat.html
  • materi teks eksposisi - Bahasa Indonesia Kelas X , (terbitan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar